Bomwaktu.com, Gowa Sulsel — Gelombang rotasi dan mutasi jabatan di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gowa yang berlangsung intensif memicu kontroversi di tengah masyarakat.
Kebijakan ini menuai sorotan tajam lantaran diduga sarat dengan praktik nepotisme dan upaya pengamanan kepentingan politik tertentu.
Kecurigaan tersebut muncul menyusul pelantikan sejumlah pejabat baru, di mana tercatat sedikitnya empat orang di antaranya merupakan istri dari pejabat tinggi daerah yang masih aktif menjabat. Keempat istri pejabat tersebut antara lain:
1. Istri Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Gowa, Indra Said, S.STP., M.A.P.
2. Istri Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Gowa.
3. Istri Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Gowa, yang kini menduduki posisi KasubagĀ di Litbang Gowa.
4. Istri Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gowa, yang ditempatkan di lingkungan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Gowa.
Berdasarkan data yang dihimpun, pelantikan terbaru ini dinilai didominasi oleh nama-nama yang memiliki kedekatan khusus dengan lingkaran kekuasaan.
Penempatan empat istri pejabat teras secara bersamaan di posisi strategis dinilai mencolok dan memicu pertanyaan besar mengenai objektivitas penilaian kompetensi serta prinsip meritokrasi dalam birokrasi.
Dinamika Politik dan Isu Intervensi
Di sisi lain, rotasi masif ini juga dituding sebagai strategi penguatan posisi di tengah memanasnya suhu politik daerah.
Muncul dugaan bahwa jabatan strategis sengaja diberikan kepada pihak-pihak tertentu guna “mengamankan” situasi, sementara loyalis yang berjasa pada kontestasi politik sebelumnya justru dilaporkan tergeser ke posisi non-esensial.
Bocoran dari lingkungan internal Pemda menyebutkan, kuat indikasi bahwa penempatan jabatan, termasuk pelantikan para istri pejabat tersebut, bukan semata-mata kebijakan Bupati, namun diduga kuat ada intervensi dari oknum pejabat tertentu.
Salah satu nama yang disorot publik dan diduga memiliki peran besar dalam mengatur skenario mutasi ini adalah Kepala Bappeda Gowa.
“Rotasi ini terkesan dipaksakan dan cenderung sebagai langkah defensif di tengah isu konspirasi politik,” ujar salah satu sumber yang memahami dinamika internal, yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Badan Kepegawaian belum memberikan konfirmasi resmi mengenai alasan teknis di balik penempatan para istri pejabat tersebut dalam satu gelombang yang sama.
Awak media juga telah berulang kali mencoba menghubungi Kepala Bappeda Gowa untuk meminta keterangan terkait isu ini, namun hingga saat ini belum ada tanggapan atau konfirmasi yang diberikan. (Najamuddin) (Bersambung)




