Beranda Sosial dan budaya Hj. Husniah Bupati Gowa Ukir Sejarah di Tanah Gowa: Bainea Kedua Memimpin...

Hj. Husniah Bupati Gowa Ukir Sejarah di Tanah Gowa: Bainea Kedua Memimpin Daerah Ini

186
0

Bomwaktu.com Gowa Sulawesi Selatan — Seputar hasil narasumber pantauan pewarta media ini dan sahabat Bomwaktu.com, berikut liputannya :

Dari Tumanurung Bainea di masa lampau hingga Sitti Husniah Talenrang di masa kini, semangat perempuan memimpin terus mengalir.

Jejak ini mengingatkan masyarakat pada tokoh bersejarah Tumanurung Bainea, yang tercatat sebagai raja perempuan pertama yang memimpin Kerajaan Gowa sekitar tahun 1320.

Pesan sederhana: jangan biarkan perbedaan memecah persaudaraan. Siapa menabur angin, akan menuai badai.

Semoga masa bakti Husniah dikenang bukan karena hiruk-pikuk politik, seperti melalui pansus Hak Angket DPRD Gowa, yang rusak namanya, Dugaan Korupsi yang tak terbukti, Penutupan Sampah akses masuk di Cadika, Aksi Demo di gelar Pejabat Non Aktif dan Apara Negeri Sipil aktif, Melainkan karena kerja nyata yang membawa manfaat bagi seluruh rakyat Butta Gowa.

Kini muncul isu baru yang hangat di lagi di perguncingan di kanal internet oleh sejumlah orang, masuk di redaksi Bomwaktu.

Alih alih ternyata kedua surat tersebut beredar info perkara MA-RI, Mahkamah Agung Repubik Idonesia, yang belum jelas asal usul dugaan kebenarannya. Artinya kita tunggu saja pengumuman ke asliannya dari jakarta.

Untuk di ketahui, biasanya (MA – RI) bila melakukan sidang secara terbuka lalu di umumkan terang benderang lewat jendela perusahaan Media online, Cetak, dan Televisi. Bukan diedarkan melalui lembaran surat seperti saat ini beredar di grup grup “WhtsAPP”

Lembaran penting kembali terukir dalam perjalanan sejarah Butta Gowa. Doktor. Haja. Sitti Husniah Talenrang kini resmi memegang tampuk pimpinan Kabupaten Gowa untuk masa bakti 2025–2030, setelah dilantik bersama Wakil Bupati Darmawangsyah Muin oleh Presiden Republik Indonesia pada 20 Februari 2025.

Bagi masyarakat, terpilihnya Husniah bukan sekadar pergantian kepemimpinan pemerintahan.

Ia menjadi simbol kembalinya sosok perempuan memegang peran sentral di panggung sejarah Tanah Gowa.

Husniah adalah putri daerah yang berakar kuat di Desa Manjapai, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Perjalanan pengabdiannya di jalur publik dimulai sebagai anggota DPRD Kabupaten Gowa, lalu melanjutkan ke DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, hingga akhirnya mendapat kepercayaan memimpin kampung halamannya.

Pemerintah Kabupaten Gowa, sendiri mengakui Tumanurung Bainea sebagai pendahulu pertama yang memegang kekuasaan tertinggi di wilayah ini.

Tak heran, banyak warga menyebut kepemimpinan Husniah sebagai “kembalinya Bainea” di era pemerintahan modern.

Meski demikian, sebutan “Bainea kedua” ini lebih tepat dipahami sebagai ungkapan budaya dan penghormatan masyarakat, bukan gelar resmi maupun penetapan sejarah.

Ketangguhan di Tengah Dinamika Perjalanan seorang pemimpin jarang berjalan mulus.

Di tengah dinamika politik, perbedaan kepentingan, hingga tekanan yang muncul, ketangguhan Husniah diuji.

Sejak awal menjabat, ia menegaskan komitmen untuk menjaga amanah dan melanjutkan roda pembangunan yang berfokus pada pelayanan masyarakat.

Berbagai agenda kerja telah disusun demi kemajuan dan kesejahteraan warga Gowa.

Kebanggaan Keluarga, Kebanggaan Daerah
Tak hanya Husniah yang mendapat kepercayaan publik.

Kakaknya, Komjen Pol. (Purn.) Muhammad Fadil Imran, dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pengelolaan Pantai Utara Jawa pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Sepanjang pengabdiannya, Fadil Imran telah menjabat sejumlah posisi strategis, antara lain Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, dan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri.

Pelantikan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya warga Gowa.

Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan Perbedaan pandangan dalam berdemokrasi adalah hal yang wajar.

Kritik terhadap kebijakan pemerintahan sah disampaikan, selama didasari fakta, disampaikan secara terbuka, dan melalui jalur yang benar.

Sebaliknya, tudingan tanpa bukti yang mengarah pada “konspirasi politik” hendaknya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Pesan sederhana: jangan biarkan perbedaan memecah persaudaraan. Siapa menabur angin, akan menuai badai.

Setiap tindakan yang berupaya ingin menjatuhkan Husniah, memiliki konsekuensi; hendaknya menjaga ucapan, sikap, dan langkahnya.

Tidak ada jabatan yang abadi, tidak ada kekuasaan yang selamanya. Bersabarlah menanti pada pertarungan Pilkada Bupati Gowa, tahun 2030, mendatang.

Namun Yang abadi adalah jejak pengabdian dan kehormatan yang dijaga bersama.

Sejarah bukan milik perseorangan. Jika Husniah mampu menjalankan amanah dengan baik hingga akhir masa jabatannya, penilaian sejarah akan didasarkan pada karya nyata, kebijakan yang adil, dan manfaat yang dirasakan rakyat.

Kebanggaan tidak terletak pada siapa keluarganya atau dari mana asalnya, melainkan pada pemerintahan yang jujur, terbuka, dan berpihak pada masyarakat.

Dari Tumanurung Bainea di masa lampau hingga Sitti Husniah Talenrang di masa kini, semangat perempuan memimpin terus mengalir.

Semoga masa bakti Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, SE,MM  dikenang bukan karena hiruk-pikuk politik yang ingin menjatuhkannya, melainkan karena kerja nyata yang membawa manfaat bagi seluruh rakyat Butta Gowa, seperti pengentasan kemiskinan dan berhasil menorehkan 450 unit rumah bagi warga miskin Ekstrem (MKE)

Laporan: Najamuddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here