Beranda Politik Duka Rakyat Gowa di Balik Badai Politik Husniah: Ibarat “Sudah Jatuh Tertimpa...

Duka Rakyat Gowa di Balik Badai Politik Husniah: Ibarat “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”

76
0

Bomwaktu.com Gowa Sulawesi Selatan — Peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga pula” tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan ujian berat yang dialami Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang. Srikandi politik dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang dikenal sebagai sosok perempuan tangguh ini harus menghadapi kenyataan pahit saat pengabdiannya untuk masyarakat Kabupaten Gowa terhenti di tengah jalan.

Peribahasa itu melukiskan kepedihan mendalam ketika kemalangan dan kepungan masalah datang bertubi-tubi—belum usai satu duka terkikis, badai lain sudah melanda.

Bupati Gowa periode 2025–2030 yang lahir pada 20 Maret 1977 ini sebenarnya mengantongi dukungan penuh dari masyarakat. Pada Pilkada 2024 lalu, jargon “Hatidamai” yang diusungnya disokong koalisi besar sembilan partai politik, yakni PAN, Gerindra, Golkar, Perindo, Demokrat, PDI Perjuangan, PKS, Hanura, hingga Masyumi.

Namun, perjalanan politik sang pimpinan pilihan rakyat tak seindah harapan. Masa jabatannya berakhir secara mendadak pada 14 Oktober 2026 melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmen Mendagri) Tito Karnavian Nomor 100.2.1.3-3256 Tahun 2026.

Di mata rakyat, kepemimpinan Husniah yang baru seumur jagung bagai dihantam badai dan angin kencang. Berhentinya kepemimpinan Husniah diduga terpicu oleh dinamika dan manuver politik Pansus Hak Angket DPRD Gowa, sebuah keputusan politik yang dinilai jauh dari keinginan nurani rakyat kecil.

Kesedihan masyarakat, khususnya di Kecamatan Bontonompo, kian terasa. Bagi warga desa Tanrara dan Desa Barembeng beserta desa Bontolangkasa, Husniah bukan sekadar pemimpin, melainkan putri daerah berdarah asli Bontonompo.

Sejak kecil, ia tumbuh di kenal baik kepada siapa saja. Husniah sebagai anak kukang (yaitu anak yatim/piatu) dari orang tua yang semasa hidupnya dikenal sangat dermawan dan berhati mulia. Karakter tangguh dan empati itu terus melekat dalam dirinya.

Meski jabatannya harus terhenti secara mendadak, Husniah meninggalkan jejak kepemimpinan yang mendalam di hati warga Gowa.

Kerja nyata dan pemikirannya yang berorientasi pada kemanusiaan terbukti dari dedikasinya memperjuangkan warga kurang mampu.

Sepanjang tahun 2026 saja, ia berhasil mewujudkan program bedah rumah bagi sekitar 450 keluarga dalam kategori miskin ekstrem.

Selain itu, Mereka juga mampu mewujudkan sarana jalan hancur menjadi sarana jalan bagus berlaston

Langkah politisi perempuan ini mungkin terhenti oleh pusaran kekuasaan, namun nama dan rasa cinta rakyat Gowa atas program-program berbasis kemanusiaannya tak kan mudah pudar. Rakyat Gowa kini menatap kepergian sang pemimpin dengan rasa duka yang mendalam.

Penulis: Naja

Editor: (Tim Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here