
foto : Bomwaktu.com Industri adonan Batu Merah tergantung dari bahan material tanah liat.
Bomwaktu.com Gowa Sulsel — Pengusaha kecil menengah kebawah industri pembuatan adonan Batu Bata Merah, hidup melalui bahan material tanah liat.

Foto : hasil.lahan tidak produktif kembali di sulap lahan produktif terbukti hasilnya
Dimana tanah liat hasil dari pada pengerukan lahan bukit tidak produktif di sulapnya jadi lahan basah menjadi produktif, hasil olah tanah liatnya kembali di Kelolah oleh pengusaha industri batu merah.

Foto : kondisi : lajan sudah di olah dikeruk menggunakan alat Excavator
Mohon pihak pihak pemerintah kalau bisa jangan terlalu di beri tekanan khusus bagi pengusaha bergerak bidang pengerukan lahan.
Sebab kalau tidak ada pengerukan lahan maka ratusan pengusaha industri adonan batu merah bisa mati suri.
Demikian pula lahan tidak produktif, kalau tidak di keruk maka tidak bakal mungkin bisa lahan warga petani menghasilkan peningkatan produktivitas bidang olah pertanian.
Basir Dg Nanga salah seorang pengusaha pengerukan lahan , lokasi mengatakan, sudah sekian banyak lahan warga lahan tidak produktif kembali dibsulap jadi lahan produksi, menggunakan alat Excavator.
lahan Dg Mile, warga tani lingkungan Giting-Giring Kelurahan Kalaserena Kecamatan Bontonompo Gowa, midalnya.
Pasalnya, setelah sudah di sulap menjadi lahan produktif, maka kata, Dg Mile, lahannya sudah terbukti menghasilkan tanaman padi dan tanaman palawija lainnya.
Terpisah, senada juga di sampaikan Dg Ngalle warga petani lingkungan Giring-Giring Kelurahan Kalaserena Kecamatan Bontonompo Gowa.
Olehnya itu, kami sungguh amat berterima kasih kepada Basir Dg Nanga, salah seorang pengusaha bergelut bidang pengerukan menggunakan alat berat Excavator.
Kini hasilnya juga sudah bertahun tahun menikmati hasilnya, “urai, dia saat ditemui oleh media ini di selah kesibukannya meninjau lahannya.
Perlu di ketahui, andaikan kami gunakan tenaga manual maka yakin saja lahan kami yang lokasinya berbukit hanya di tumbuhi rumput, tidak mungkin bisa selesai dalam waktu 10 tahunan.
Dengan menggunakan alat, Excavator, yang didatangkan oleh Basir Dg Nanga, maka hasil pengerukannya hanya sebulan baru bisa di fungsikan oleh pemilik lahan warga tani, “tandas, Dg Ngalle. Minggu (02/3/23)
Kata, Basir Dg Nanga, selama kami melakukan pengerukan tentu sesuai warga tani, sebab lahannya sendiri menginginkan untuk di sulap menjadi lahan produktif.
“Sebagai asli di wilayah Giring-Giring, Kelurahan Kalaserena Kecamatan Bontonompo Gowa, Kami pun belum pernah mendengar keluhan-keluhan warga soal pelarangan pengerukan lahan yang di olahnya dari lahan tidur di sulap jadi lahan produktif, “tandas, Basir Dg Nanga. Minggu (02/03/23).
Terpisah, Dg Beta, salah seorang pengusaha produksi Bata Merah, domisili lingkungan Giring-Giring Kelurahan Kalaserena Kecamatan Bontonompo Gowa, mengatakan, kami berharap jika bisa jangan hentikan pengelolaan pengerukan lahan tanah liat. Sebab kalau di hentikan maka otomatis pengusaha batu bata merah bisa gulung tikar.
Terpisah berdasarkan pantauan pewarta media ini, sejumlah pengusaha batu merah di lingkungan Giring-giring Kelurahan Kalaserena Kecamatan Bontonompo Gowa, berharap, supaya wakil rakyat duduk di DPRD Gowa (rumah rakyat Red) juga diharapkan memperjuangkan rakyatnya khususnya bergerak bidang oleh batu merah.
Kemana lagi kasihan mencari membeli tanah liat kasihan kalau bukan dari hasil pengerukan lahan tidur di sulap jadi lahan produktif, “harapnya.(**)




